Apa itu Bond/Obligasi ?

Logo BEI. Foto: okezone
Istilah bon sebenarnya sudah dikenal cukup lama di kalangan masyarakat luas. Di kalangan pekerja kasar, buruh atau tenaga harian seringkali istilah ini dipergunakan. Misalnya begini, seorang pekerja bilang ke bosnya, “Saya bon dulu seratus ribu”.

Praktek seperti ini sudah sangat jamak dan masih terjadi hingga kini di masyarakat lapisan bawah. Istilah bon yang diucapkan seorang pekerja seperti contoh di atas berarti pekerja tesebut mengajukan utang ke bosnya. Biasanya utang itu dibayar dengan langsung memotong gaji atau honor pekerja pada akhir pekan atau pada akir bulan.

Bon dalam istilah di atas sebenarnya diadopsi dari kata bond (obligasi) yang berarti utang. Dalam dunia investasi bond merupakan sebuah kertas berharga tanda utang yang dapat diperjual belikan, sehingga praktis tampil menjadi instrumen investasi. Sebagai instrumen investasi sangat digemari oleh masyarakat karena dinilai relatif aman dan memberikan imbal hasil lumayan.

Dalam praktek, bond diterbitkan dengan denominasi Rupiah atau valuta asing. Obligasi yang diterbitkan dengan mata uang asing disebut obligasi valuta. Jenis denominasi ini biasanya disesuaikan dengan pasar obligasi itu sendiri atau pertimbangan lain, misalnya karena isuernya memiliki pendapatan dalam valuta asing.

Jenis obligasi lebih banyak dibedakan berdasarkan kupon bunga yang dibayarkannya, yakni apakah obligasi itu diterbitkan dengan bunga mengambang ataukah dengan bunga tetap. Jika diterbitkan dengan kupon bunga mengambang disebut obligasi bunga mengambang (floating coupon bond) dan jika diterbitkan dengan bunga tetap disebut obligasi berbunga tetap (fixed coupon bond).

Obligasi bunga mengambang berarti nilai kupon obligasi ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu dan selalu berubah setiap waktu. Besaran kupon itu biasanya ditentukan berdasarkan rata-rata tingkat suku bunga sejumlah bank (bank pemerintah atau kombinasi antara bank pemerintah dan bank swasta) plus premi. Bank yang dipilih biasanya bank-bank papan atas.

Sebagai ilustrasi begini. Misalnya, PT ABC menerbitkan obligasi senilai Rp1 triliun bertenor lima tahun dengan tingkat suku bunga mengambang berdasarkan rata-rata bunga deposito 3 bulan pada enam bank papan atas di Indonesia plus premi sebesar 2 persen.

Artinya, jika saat pembayaran kupon bunga tingkat suku bunga deposito 3 bulan rata-rata enam bank papan atas sebesar tujuh persen, maka besarnya kupon bunga yang harus dibayarkan oleh PT ABC tadi adalah tujuh persen plus dua persen.

Lain halnya jika obligasi tadi diterbitkan dengan tingkat bunga tetap. Misalnya, ditentukan kupon bunga obligasi dengan tingkat bunga sebesar 10 persen dan dibayarkan setiap tiga bulan.

Nah, dengan kupon bunga tetap, perusahaan penerbit obligasi lebih memiliki kepastian berapa biaya bunga yang harus dikeluarkan dalam setahun. Berapapun tingkat suku bunga pasar saat kupon harus dibayar, apakah naik atau turun, maka PT ABC tetap membayar kupon bunga sebesar 10 persen tidak lebih dan tidak kurang.

Dalam praktek sering kali terjadi pihak penerbit menjual obligasi dengan sistem kombinasi antara floating coupon bond dan fixed coupon bond. Misalnya, pada dua tahun pertama dipergunakan sistem floating coupon bond dan pada tiga tahun terakhir besarnya kupon diberikan dengan sistem fixed rate.

Masih berkaitan dengan kupon bunga ada juga obligasi yang tidak membayarkan kupon bunga sama sekali, disebut dengan obligasi berbunga nol (zero coupon bond). Obligasi ini sama sekali tidak memberi kupon bunga, karena itu penerbitnya juga tidak perlu membayar bunga sepanjang waktu hingga obligasi jatuh tempo. Bagaimana obligasi seperti ini bisa laku? Agar laris obligasi tanpa bunga ini dijual dengan harga diskon, misalnya dijual dengan harga 60 persen.

Pada contoh di atas, jika obligasi PT ABC yang bertenor lima tahun dijual dengan bunga nol di harga 60 persen, maka uang yang diterima PT ABC dari penerbitan obligasi Rp1 triliun hanya Rp600 miliar. Meski begitu, pada saat jatuh tempo nanti lima tahun kemudian PT ABC harus membayar sebesar Rp1 triliun.

Di kalangan lembaga keuangan, obligasi termasuk instrument obligasi yang difavoritkan. Risikonya tidak terlalu besar, tetapi imbal hasilnya di atas suku bunga deposito. Sayangnya, untuk obligasi korporasi kebanyakan diterbitkan dengan nilai denominasi tinggi sehingga agak sulit terjangkau oleh masyarakat investor.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s