Professional Skepticism seorang auditor

Pertamakali karena suatu peristiwa dimana tiba-tiba partner saya datang ke klien untuk ngontrol auditornya. Sekonyong-konyong beliau langsung menyuruh kami para auditor cilik untuk buka working paper masing-masing. Begitu beliau ngecek-ngecek, nanya ini angka darimana? kok tiba-tiba muncul. Padahal udah ada supportingnya di belakang, tapi karena belum terindex dengan rapi jadi susah ngeliatnya.

Spontan saya ngomong, sebentar pak jangan skeptis dulu sama saya. Waktu itu yang saya tau skeptis itu tidak percayaan. Beliau bilang, namanya juga auditor kamu harus punya sikap professional skepticism donk! saya bingung, trus nanya, maksudnya apa yaa pak? Dan dijelaskan lah olehnya bla bla bla.

Ternyata professional skepticism ada di standar audit, saya baru tahu. AICPA mendefinisikan sebagai “implies an attitude that includes a questioning mind and a critical assessment of audit evidence without being obsessively suspicious or skeptical. The Auditors are expected to exercise professional skepticism in conducting the audit, and in gathering evidence sufficient to support or refute management’s assertion [AU 316 AICPA]”. Yang artinya menyiratkan suatu sikap yang mencakup pikiran yang selalu bertanya-tanya dan penilaian kritis atas bukti audit tanpa obsesif mencurigakan atau skeptis. Auditor diharapkan menggunakan skeptisme profesional dalam melakukan audit, dan mengumpulkan bukti yang cukup untuk mendukung atau menentang pernyataan asersi manajemen.

Maksudnya adalah sebuah sikap yang menyeimbangkan antara sikap curiga dan sikap percaya. ‘to seek a balance in client relationships between trust and suspicion’. Keseimbangan sikap antara percaya dan curiga ini tergambarkan dalam perencanaan audit dengan prosedur audit yang dipilih akan dilakukannya. Ini yang kadang sulit diharapkan, apalagi pengaruh-pengaruh di luar diri auditor yang bisa mengurangi sikap skeptisme profesional tersebut. Pengaruh itu bisa berup’a self-serving bias’ karena auditor dalam melaksanakan tugasnya mendapatkan imbalan dari auditee. Kadang karena sulit mendapat penjelasan dari klien, membuat kita merasa tidak enak karena rewel akhirnya menyimpulkan sesuai pemahaman sendiri atau bahkan percaya klien saja. Auditor dalam auditnya seharusnya menggunakan kemahirannya secara profesional, cermat dan seksama.

Kalau di dalam Islam dinamakan TABAYYUN, yaitu sikap tidak mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, untuk mengetahuinya maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti. Ini merupakan perintah Allah yang dengan tegas dijelaskan di dalam Al Quran supaya kita tidak salah sangka, langkah/mendapat musibah dikemudian hari karena mempercayai suatu hal/berita begitu saja.

Sumber yang tersirat, dalam auditing dinamakan supporting document. Setiap yang dilakukan accounting harus ada bukti, karena bisa saja demi memenuhi hasrat untuk menaikkan laba atau sekedar fraud kecil-kecilan, atau mungkin saja salah saji. Dasar yang dijadikan alasan mengapa transaksi itu tercatat di laporan keuangan. Makanya harus dilihat dulu buktinya, baru bisa membuat kesimpulan dari sang auditor.

Memang untuk mendapatkan sebuah benar atau tidaknya klien, sulit untuk dibuktikan. Tapi sebenarnya ada tekniknya yang pernah saya baca di buku, walaupun terpotong-potong dibeberapa sheet. Tapi untuk next topic aja yaa. nanti saya kasi link update deh disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s